Tanggal 6 Maret diperingati sebagai hari glaukoma sedunia. Kenapa sih penting untuk diperingati? Sadar atau tidak, glaukoma merupakan penyebab kebutaan no 2 di dunia setelah katarak. Akan tetapi berbeda dengan katarak, kebutaan yang disebabkan oleh glaukoma bersifat permanen sehingga dapat dipastikan menimbulkan kecacatan.
Apa itu glaukoma?
Secara sederhana, glaukoma adalah penyakit yang disebabkan oleh peningkatan tekanan di dalam bola mata. Dalam keadaan normal tekanan bola mata ( tekanan intra okular ) berkisar antara 10 - 21 mmHg, sedangkan pada penderita glaukoma dapat mencapai lebih dari 40 mmHg sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada saraf penglihatan yang ada di dalam bola mata.
Bila kita melihat bagian-bagian dari mata, bagian dalam bola mata terisi oleh cairan setengah padat yang disebut vitreus body ( vitreus = bening ) yang berfungsi untuk meneruskan cahaya ke retina. Dalam keadaan normal, produksi cairan vitreus seimbang dengan pengeluarannya. Akan tetapi pada penderita glaukoma terjadi penyumbatan pada saluran keluar cairan vitreus, menyebabkan penumpukan cairan di dalam bola mata. Hal ini mengakibatkan tekanan di dalam bola mata meningkat dan mendesak saraf penglihatan yang ada di retina. Akibatnya terjadi kerusakan saraf penglihatan yang ada dalam bola mata.
Faktor Resiko
Faktor resiko bagi seseorang untuk terkena glaukoma meliputi :
1. Tekanan bola mata tinggi, biasanya dicurigai bila tekanan bola mata > 21 mmHg
2. Riwayat glaukoma di dalam keluarga
3. Usia lebih dari 40 tahun
4. Menderita rabun dekat yang ekstrim
5. Menderita hipertensi
6. Menderita diabetes mellitus
7. Riwayat cedera pada mata
Diagnosis dan Penatalaksanaan
Glaukoma dapat dibedakan menjadi 2, yaitu glaukoma akut dan kronis.
Glaukoma akut merupakan glaukoma yang terjadi secara mendadak. Gejala yang dirasakan adalah nyeri pada bola mata yang dapat diikuti dengan penglihatan yang menjadi buram, silau bila melihat cahaya, mual dan muntah. Karena peningkatan tekanan bola mata terjadi secara mendadak, umumnya diperlukan tindakan segera untuk menurunkan tekanan bola mata untuk mencegah kebutaan.
Glaukoma kronis merupakan glaukoma dimana peningkatan tekanan bola mata terjadi secara perlahan. Glaukoma kronis sering dijuluki sebagai 'pencuri penglihatan' karena umumnya penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya menderita glaukoma kronis karena Tidak ada keluhan seperti rasa nyeri. Pada glaukoma kronis, kehilangan lapang penglihatan dimulai dari pinggir menuju ke arah tengah secara perlahan. Pada tahap lanjut, lapang penglihatan yang tersisa hanya di bagian tengah sehingga penderita seperti mengintip dari balik lubang kunci.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi:
1. Pemeriksaan tonometri untuk mengukur tekanan bola mata
2. Pemeriksaan perimetri untuk melihat lapang pandang pasien
Penanganan dari glaukoma meliputi pemberian obat untuk menurunkan tekanan bola mata, baik obat tetes maupun yang diminum. Terapi lainnya adalah operasi dan laser yang bertujuan untuk membuat saluran keluar cairan vitreus yang baru.
Sebenarnya ada gambar yang cukup bagus tapi terkait dengan copyright, mungkin bisa dilihat sendiri di alamat website
http://www.ahaf.org/glaucoma/about/Aqueous_BuildUp.htm
http://www.lowvisionclub.com/articles/seewhatisee.html
Semoga dengan diperingatinya hari glaukoma sedunia ini, banyak orang yang semakin menyadari tentang pentingnya menjaga kesehatan mata dan resiko kebutaan akibat glaukoma dapat dicegah. That's all ^^
Gbu always
- etherial dragon
Medical terms :
- akut
menggambarkan perjalanan penyakit yang mendadak muncul dan berat, biasanya dalam jangka waktu kurang dari 3 bulan
- kronis
menggambarkan perjalanan penyakit yang perlahan tapi progresif, biasanya dalam jangka waktu lebih dari 3 bulan
Referensi
Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia. Kenali, Waspadai dan Cegah Kebutaan Akibat Glaukoma. Diunduh dari http://www.perdami.or.id/2008/berita_detail.php?sdet=12
Noeker, RJ. Glaucoma, Angle Closure, Acute. Diunduh dari http://www.emedicine.com/oph/topic255.htm
Ritch, Robert. Glaukoma, Angle Closure, Chronic. Diunduh dari http://www.emedicine.com/oph/topic122.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar